Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Siapa yang belum pernah melihat belut selama ini? masihkah ada yang belum memakannya juga ?

Padahal sudah sangat banyak rumah makan yang menyajikan menu belut yang super rasanya.

Dahulu kalau ingin memakan belut kita harus berkotor – kotor dan harus mau terjaga diwaktu malam.

Karena binatang yang satu ini bisa didapati pada waktu malam dan hanya adda di sawah saja.

Sementara pada saat ini, lahan sawah sudah semakin berkurang,karena semakin banyaknya jumlah manusia yang ada di dunia ini.

Tanah perwawahan sudah banyak disulap untuk dijadikan perusahaan, dan yang paling banyak addalah dibuat  perumahan.

Kalau sudah seperti ini, apakah mungkin kita mencari belut di persawahan yang sudah berubah menjadi perusahaan.

Bisa jadi kita ditangkap security karena dituduh yang tidak – tidak.

Untuk itu sekarang jangan mencari belut ditanah persawahan, karena belut sudah bisa dibudidayakan di sekitar rumah kita.

Dan hasilnya juga sungguh menggiurkan, dengan memanfaatkan ruang kosong di sekitar rumah kita.

Kita bisa menghasilkan pundi – pundi rupiah yang sangat melimpah.

Semoga apa yang kita bayangkan bisa berubah menjadi kenyataan, bisa menjadi pengusaha belut yang sukses Aamiin.

Berikut ini adalah pengertian belut secara umum, belut merupakan binatang yang biasanya hidup di air.

Yang dikelompokkan kedalam kelompok ikan, tetapi antara belut dan ikantentunya banyak perbedaan.

Belut bisa hidup di dalam lumpur dengan sedikit air, sementara kalau ikan pastinya akan mati apabila perbandingan lumpur dan air lebih banyak lumpurnya. Inilah Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Belut memiliki du sistem pernapasan yang bisa membuat belut bertahan hidup di dalam kondisi seperti itu.

Kalau di Negara kita, yang paling banyak adalah belut berjenis Monopterus albus yang sering kita jumpai di tanah persawahan.

Ada juga jenis yang lain, yaitu belut yang hidup di rawa dengan nama lain Synbranchus Bangalensis.

Tentunya keduanya memiliki perbedaan walau namanya sama, yaitu belut. Karena habitatnya berbeda, maka dapat dipastikan kedua belut ini memiliki perbedaan.

Perbedaannya bisa dilihat secara kasat mata, kalau belut yang habitatnya di tanah persawahan, biasanya memiliki badan yang pendek dan biasanya gemuk.

Tetapi belut yang habitatnya di rawa, bentuk penampakan tubuhnya lebih panjang serta ramping.

Jangan mudah tertipu dengan belut rawa ya..karena bisa jadi itu adalah ular, karena seilas hamper mirip dengan ular.

Selanjutnya kita akan membahas peluang usaha yang seperti apa kalau kita erniat ingin membudidayakan belut ini.

Ada dua peluang usaha yang bisa kita lakukan, mengingat pangsa pasar diluar sana, penikmat belut semakin banyak saja.

Yang pertama adalah budidaya untuk pembibitan dan yang kedua adalah pembesara belut.

Kedua peluang usaha ini kami nilai sangat menguntungkan, mengingat waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama.

Kalau kita ingin membudidayakan belut dengan tujuan pembibitan saja, maka kita harus benar – benar mencari indukan yang baik.

Agar bisa menghasilkan bibit – bibit unggul yang kelak bisa menjadi belut dewasa yang memiliki nilai jual yang baik.

Sedangkan kalau kita mengingikan pembudidayaan program pembesaran, harus lebih mementingkan proses perawatan.

Karena dengan kita merawat belut – belut yang kita budidayakan dengan baik, maka ketika panen tiba kita bisa merasakan hasilnya.

Kita disini ingin membahas peluang bisnis budidaya belut untuk program pembesaran.

Pembesaran belut bisa dilaksanakan dimana saja dan dengan media apa saja, karena memang belut ini bisa menyesuaikan dengan kondisi lingkungan Negara kita.

Andaikan asupan gizinya bisa terpenuhi maka dapat dipastikan belut akan tumbuh dengan baik.

Media yang bisa dipakai aa beberapa, diantaranya ada yang berupa media tembok ajau sejenis kolam.

Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar
Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Dan bisa juga budidaya belut dengan menggunakan drum plastik bekas, mengingat tempat atau lokasi yang kurang begitu luas.

Tetapi kali ini kami akan membahas budidaya belut pada media tembok atau kolam.

Yang pertama dan yang paling utama adalah memilih bibit yang baik

Pada tahap ini kita bisa memilih bibit dengan mencari sendiri di daerah persawahan, atau tangkapan dari warga yang secara sengaja mencari dipersawahan dan bisa juga membelinya dari pembudidaya belut.

Karena pembudidaya belut yang memang hanya pembibitan juga banyak kita jumpai.

Tetapi perlu diingat, belut yang berasal dari alam dan dengan belut yang ditangkarkan tentunya memiliki perbedaan.

Bibit belut yang diperoleh dari hasil tangkapan memiliki beberapa kekurangan, kerena pada proses penangkapan biasanya asalh ambil saja.

Dengan begitu belut pastinya akan memiliki trauma, dan akan berimbas dengan besar kecilnya tubuh belut itu sendiri.

Belut yang diperoleh dari hasil tangkapan juga memiliki ukuran tubuh yang beragam, ada yang besar dan ada juga yang kecil.

Karena makanan serta nutrisi yang berada dihabitatnya juga berbeda, tingkat keagresipan belut juga menentukan besar kecilnya ukuran belut.

Semakin agresif belut tersebut, semakin besar belutnya.

Dan belut yang diperoleh di dunia luar biasanya kalau diolah akan memiliki rasa yang lebug gurih, sehingga kalau dijual pasti harganya akan lebih tinggi.

Sedangkan kalau belut hasil budidaya harga jualnya akan sedikit dibawah belut yang diperoleh dari hasil tangkapan di alam liar.

Tetapi pastinya memiliki kelebihan, yaitu untuk ukuran bisa sama besar dan tentunya seragam.

Bisa disediakan juga dalam jumlah yang banyak, selain itu bibit dari hasil budidaya bisa tumbuh bersamaan karena biasanya diperoleh dari indukan yang sama atau seragam.

Bibit belut yng diperoleh dari hasil budidaya diperoleh dengan cara memijahkan antara belut pejantan dan belut betina secara alami.

Menurut pengetahuan dari kami, dinegara kita belum ada pemijahan buatan seperti contohnya suntik hormon untuk belut.

Bagaimana cara mengetahui bibit yang baik untuk kita membudidayakanya ?

Yang pertama adalah ukuran.

Ukuran bibit ayang baik hendaknya memiliku ukuran yang sama, bisa besarnya, panjangnya dan kalau memungkinkan adalah beratnya harus sama.

Kenapa harus dibuat seragam atau harus sama, karena kalau ada perbedaan besar kecilnya belut,

Dikhawatirkan ada kanibalisme, yaitu yang besar biasanya akan memakan yang kecil, kalau ini terjadi tentunya kita sendiri yang akan dirugikan.

Yang kedua adalah memilih yang aktif dalam pergerakannya.

Salah satu cirri belut yang sehat adalah dilihat dari pergerakannya, semakin dia lincah, maka kesehatannya sudah terjamin.

Karena kalau belutnya diam saja dan mungkin loyo, kalau keadaan seperti ini dibiarkan, maka kemungkinan akan mati.

Yang ketiga adalah belut tidak cacat atau memiliki cacat fisiknya.

Kalau dari awal sudah ada ketidak sempurnaan pada tubuh belut, maka untuk perkembangannya akan mengalami hambatan.

Dan kemungkinan besar ketika yang lain sudah besar, belut yang memilikiperbedaan ini juga tidak akan bisa tumbuh seperti yang lainnya.

Yang ke empat dan yang paling penting adalah terbebas dari segala jenis penyakit.

Kenapa hal ini menurut kami adalah hal yang paling penting, karena penyakit adalah momok dari setiap pembudidaya.

Budidaya apa saja, bisa budidaya lele, jangkrik, cacing, jamur dan tentunya belut.

Maka dari itu kita sebagai pembudidaya harus lebih sering dan rajin untuk selalu memperhatikan kesehataan belut yang kita budidayakan.

Karena kalau salah satu belut yang kita budidayakan terkena penyait, dan kita tidak mengetahuinya, maka sudah dapat dipastikan penyakit itu akan menular ke belut yang lain. Pahami Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Untuk budidaya belut dengan tujuan pembesaran, biasanya menggunakan belut dengan ukuran panjang 10 – 12 cm.

Bibit sebesar ini membutuhkan waktuuntuk pemeliharaan kurang lebih sekitar 3 – 4 bulan.

Kalau waktu pemeliharaan selama 3 – 4 bulan sudah kita lalui, maka belut yang kita budidayakan sudah siap untuk dikonsumsi.

Tetapi semua tergantung permintaan pasar, kalau membutuhkan belut dengan ukuran yang lebih besar lagi, maka waktu budidayanya juga harus ditambah.

Bisa satu sampai dua bulan kedepan, dengan begitu belut yang kita budidayakan juga akan semakin besar.

Harga jualnya pun juga akan semakin tinggi, karena waktu pembesarannya juga membutuhkan pakan lebih banyak.

Seperti yang sudah kami sampaikan di atas, untuk membudidayakan belut, kita harus menyedikan media.

Media di sini bisa media yang permanen, dan bisa juga dengan media yang mudah dipindah dan dibongkar pasang.

Media yang permanen kita bisa menggunakan media yang terbuat dari tembok atau tanah yang sengaja digali untuk dijadikan kolam pembesaran.

Sedangkan media yang bisa dipindah dan bisa dibongkar pasang bisa mengunakan terpal, plastik dan juga drum plastik bekas.

Di sini kita akan membahas pembesaran belut dikolam tembok, karena kolam yang terbuat dari tembok dengan tujuan untuk pembesaran, biasanya akan dibuat lebih kuat.

Kolam yang terbuat dari tembok ini biasanyanya di dalam pembuatannya disesuaikan dengan berapa banyak bibit yang akan kita besarkan.

Dan biasanya disesuaikan dengan luas lahan yang kita punya, jangan lupa untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Kalau masih dalam tahap belajar, sebisa mungkin jangan terlalu besar dahulu, karena kita masih minim pengalaman.

Jangan lupa untuk selalu berkoordinasi dan berkonsultasi dengan teman yang sudah berpengalaman.

Karena kesuksesan bisa berawal dari banyaknya teman, karena teman adalah orang yang selalu ada dikala kita membutuhkan.

Kolam pembesaran belut biasanya memiliki ketinggian 1 – 1,25 meter, jangan terlalu tinggi karena kita harus melihat perkembangan belut di dalam kolam.

Saluran pembuangan atau pengeluaran dibuat dengan menggunakan pipa yang diameternya besar.

Yang berfungsi untuk memudahkan kita didalam mengganti media yang ada di dalam kolam, yaitu media tumbuh bagi belut.

Kalau anda membuat kolam, dan terhitung masih baru, hendaknya jangan sampai bibit belut dimasukkan langsung.

Kalau kolam tembok dan masih baru langsung digunakan dengan cara memasukkan bibit belut.

Bisa dipastikan banyak dari bibit belut itu yang akan mati, karena masih ada sisa – sisa semen yang bercampur dengan air kolam.

Kalau kolam masih baru dibuat, hendaknya lebih sabar lagi jika menginginkan untuk membudidayakan belut.

Kolam yang masih baru kita isi dengan air, dan kita diamkan selama beberapa hari terlebih dahulu.

Kemudian air yang ada dikolam dibuang dan diganti dengan air yang baru dengan diisi dengan berbagai kimposisi campuran.

Guna menunjang pertumbuhan belut yang sengaja kita budidayakan.

Media apa saja yang kita pakai untuk menunjang tumbuh dan berkembangnya belut ?

Belut biasa tumbuh pada media lumpur, jadi ketika kita menginginkan membudidayakan belut jangan lupa untuk mengisi kolam pembesaran dengan lumpur.

Tetapi jangan lupur sembarang lumpur, karena tempat hidup belut itu dari lumpur yang cenderung bercampur air.

Bisa dibayangkan kalau kita pergi ke sawah ? lumpur yang ada biasanya bercampur dengan air.

Dan seperti itulah mediatumbuh bagi belut, selain sebagai media tumbuh, lumpur sebenarnya juga dipergunakan belut untuk tempat perlindungan.

Perlindungan dari predator dan perlindungan dari sinar matahari secara langsung.

Itu kalau media lumpur yang ada dialam liar, tetapi kalau kita menginginkan pembudidayaan belut.

Tentunya kita harus membuatnya sendiri, jangan salah campur ya..karena kalau salah campur maka belut juga tidak akan bisa tumbuh dengan baik.

Media apa saja yang bisa kita pakai untuk membudidayakan belut ?

Ketika kita membuat lumpur buatan beberapa bahan harus dipersiapkan, diantaranya adalah :

Lumpur yang kita ambil dari sawah, pupuk kandang, jerami yang berasal dari padi, dan sekamnya, kompos, humus, dedak, pelepah pisang, bengok, atau tanaman air, serta mikroba decomposer.

Semua bahan yang kami sebutkan di atas merupakan media tumbuh bagi belut yang akan kita budidayakan.

Semua media tersebut tidak bisa dipatok harus seberapa banyak, semua sesuai degan kebiasaan saja.

Kalau kita masih kebingungan di dalam mencampur semua komposisi bahan, ada baiknya kita bertanya kepada teman yang lebih tahu.

Karena kami didalam menjelaskannya juga bingung, misalnya dalam penggunaan pelepah pisang.

Mungkin yang kami maksud satu buah pelepah pisang dengan besar kira – kira sebesar paha orang dewasa.

Tetapi kalau kita tidak melihat secara langsung, bisa jadi pelepah pisang yang kita pakai bisa lebih banyak dan lebih besar.

Kalau seperti itu akan membuat kolam pembesaran menjadi penuh, maka saran dari kami, lebih baik bertanya kepada teman yang lebih berpengalaman.

Bagaimana cara mencampur semua bahan yang sudah dipersiapkan ?

Berikut ini adalah langkah alternative untuk membuat media tumbuh untuk pembudidayaan belut.

Langkah pertama adalah dengan membersihkan kolam pembesaran belut, kemudian keringkan dari air yang menggenangi kolam pembesaran belut.

Langkah selanjutnya adalah meletakkan jerami padi yang telah dicacah atau dipotong pada dasar kolam dengan ketebalan kurang lebih 20 cm.

Kemudian letakkan pelepah pisang yang telah dipotong – potong menjadiukurang yang lebih kecil, kira – kira pelepah pisang tadi memiliki ketebalan 6 cm.

Setelah dua bahan tersebut dimasukkan dan disusun sedemikian hingga, langkah berikutnya adalah memasukkan pupuk kandang.

Pupuk kandang yang kami maksud adalah pupuk kandang dari kotoran sapi atau kerbau, karena kedua pupuk kandang tersebut untuk saat ini yang paling cocok sebagai media tumbuh dari belut.

Lalu masukkan kompos, bisa juga tanah humus dengan ketebalan 20 – 25 cm, selanjutnya masukkan pupuk organik.

Kenapa harus pupuk organic ? karena pupuk organic berguna untuk memicu pertumbuhan biota yang bisa menjadi penyedia makanan alami bagi belut.

Kemudian media yang sudah tersusun tersebut disiram dengan cairan bioaktivator atau mikroba decomposer, misalnya adalah larutan EM4.

Kalau ingin mencari bahan tersebut larutan EM4 bisa beli secara online, karena sekarang sudah jamannya serba dimudahkan.

Setelah semua bahan itu ditimbun dengan menggunakan lumpur sawah atau lumpur rawa dengan ketebalan 10 – 15 cm. maka media tumbuh tersebut siap digunakan.

Tetapi agar media tumbuh belut siap digunakan, maka diamkankan semua bahan itu selama kurang lebih 1 – 2 minggu agar terfermentasi dengan sempurna.

Langkah selanjutnya adalah mengalirkan air bersih selama 3 – 4 hari pada media tumbuh yang telah terfermentasi tersebut untuk membersihkan racun.

Ketika mengaliri air ke dalam kolam yang sudah terisi dengan media tumbuh, arus air jangan terlalu besar atau deras, dengan maksud agar tidak terjadi erosi.

Ketinggian air dari permukaan jangan terlalu penuh, ketinggian air dari permukaan kurang lebih 5 cm.

Pada bagian atas air kemudian diberi tanaman air yang tentunya sudah dipersiapkan, yakni bengok atau enceng gondok.

Pemberian tanaman air jangan terlalu banyak, karena kalau enceng gondok terlalu banyak atau penuh maka akan mengganggu kita didalam mengawasi perkembangan belut tersebut.

Saatnya penebaran bibit dan pengaturan air

Penebaran bibit belut yang paling baik adalah dilakukan pada waktu pagi atau sore hari, dengan tujuan agar belut tidak mengalami stress.

Apabila anda ingin membudidayakan belut dari hasil penangkapan di alam liar, maka sebaiknya belut – belut tadi dikarantina terlebih dahulu.

Berapa lama waktu yang baik untuk mengarantina belut dari hasil tangkapan di alam liar ? sebaiknya dilakukan selama 1 – 2 hari.

Biarkan belut berada didalam kolam dengan air yang mengalir, serta diberi pakan telur yang sudah dikocok selama proses karantina.

Belut merupakan hewan yang bisa dibudidayakan dengan kepadatan tinggi, maksudnya adalah bisa hidup dengan jumlah yang banyak di dalam satu kolamnya.

Belut dengan ukuran panjang 10 – 12 cm, satu kolamnya bisa diisi dengan kisaran 50 – 100 ekor.

Jangan lupa untuk mengatur sirkulasi air di dalam kolam penumbuhan belut, jangan terlalu deras, karena biasanya pengairan di sawah juga menggunakan air yang mengalir.

Jadi ketika mengaliri kolam pertumbuhan belut juga disesuaikan dengan kondisi sawah yang mana air tetap mengalir, tetapi tidak terlalu deras.

Kalau sudah ada bibit belut pada kolam pertumbuhan, maka usahakan air jangan terlalu tinggi.

Kenapa ? kalau air terlalu tinggi, maka belut akan mengambil nafas juga terlalu jauh, dengan begitu belut akan banyak bergerak.

Kalau pergerakan belut semakin banyak, tentu saja kondisi tubuh belut tidak akan gemuk, karena seringnya bergerak keatas permukaan air untuk mengambil nafas atau oksigen.

Bagaimana cara memberikan pakan ?

Apabila anda bener – benar ingin membudidayakan belut, maka yang wajib anda ketahui adalah :

Belut termasuk hewan yang rakus, jadi selalu diperhatikan dalam pemberian pakan pada belut yang anda budidayakan.

contoh tempat budidaya belut dengan drum plastik bekas

Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar
Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Apabila didalam pemberian pakan mengalami keterlambatan, maka akanberakibat fatal, kemungkinan akan terjadi kanibalisme.

Atau belut akan memakan satu dengan yang lain, apalagi untuk belut yang baru ditebar.

Takaran pakan harus disesuaikan dengan berat populasi belut, biasanya belut membutuhkan pakan sebanyak 5 – 20 % dari berat tubuhnya dalam setiap hari.

Berikut ini adalah kebutuhan pakan dalam waktu harian atau sehari – hari pada populasi belut dengan berat kisaran 10 kg.

Apabila belut masih berusia 0 – 1 bulan maka pakannya 0,5 kg

Belut dengan usia 1 – 2 bulan maka pakannya 1 kg.

Belut dengan usia 2 – 3 bulan maka pakannya 1,5 kg.

Belut dengan usia 3 – 4 bulan, maka pakannya 2 kg

Itu harus benar – benar diperhatikan, kalau tidak maka kerugian ada ditangan anda sendiri.

Untuk pakan belut yang masih kecil bisa dibedakan menjadi dua jenis, bisa diberikan pakan hidup atau dari olahan pabrik.

Kalau dari pakan yang hidup, maka belut bisa dikasih pakan berupa cacing, kutu air, kecebong, larva ikan dan larva serangga.

Sedangkan belut yang sudah dewasa bisa diberi pakan berupa katak, serangga, yuyu, ikan, belatung, bekicot, tutut atau keong.

Dengan frekwensi pemberian pakan hidup 3 kali sekali, jangan setiap hari, karena pastinya untuk mencarinya juga susah.

Untuk pemberian pakan dari olahan pabrik bisa diberikan pellet dan pakan yang menunjang lainnya.

Bisa juga diberi dengan pakan yang sudah mati, diantaranya adalah bangkai ayam, bekocot, ikan afkir, cacahan yuyu.

Semua pakan mati tersebut apabila ingin diberikan pada belut sebaiknya harus direbus terlebih dahulu.

Perlu diingat juga, bahwa belut adalah binatang nocturnal atau binatang yang aktif pada waktu malam.

Jadi pemberian pakan tang tepat adalah pada saat matahari sudah mulai tenggelam, atau pemberian pakan pada waktu sore dan malam hari.

Tetapi itu hanya teori, kalau tempat budidaya belut yang anda tekuni pada bagian atap sudah diberi naungan.

Maka dalam memberikan pakan bisa dilakukan kapan saja, atau sepanjang hari.

Langkah berikutnya adalah Panen.

Waktu ini adalah waktu yang sangat ditunggu – tunggu, kira – kira 3 – 4 bulan lamnya kita menunggu.

Dan tentunya dengan perawatan yang cukup intesfif dan pastinya dengan usaha serta doa, agar perkembangan belut bisa maksimal.

Seperti halnya dengan budidaya lele atau ikan yang lain, ketika memanen belut juga ada beberapa cara.

Diantaranya adalah dengan memanen semua belut yang ada di kolam pertumbuhan, atau dengan cara memilih yang sudah besar saja.

Sedangkan yang masih kecil kita budidayakan kembali atau kita rawat kembali agar sesuai dengan ukuran yang kita inginkan.

Tata Cara Budidaya Belut dengan Benar

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga bisa membawa manfaat bagi kita semua.

Khususnya kepada anda yang benar – benar ingin membudidayakan belut dengan benar.

Dan tentunya dengan hasil yang maksimal agar bisa menghasilkan rupiah yang melimpah.

Selamat mencoba dengan tatacara yang sudah kami sampaikan diatas.

Semoga anda semua yang berniat membudidayakan belut bisa menjadi pembudidaya belut yang sukses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *